Sabtu, 30 Mei 2009

Agregate Planning

Definisi


Aggregate Planning (AP) adalah suatu aktivitas operasional untuk menentukan jumlah dan waktu produksi pada waktu dimasa yang akan datang.AP juga didefinisikan sebagai usaha untuk menyamakan antara supply dan demand dari suatu produk atau jasa dengan jalan menentukan jumlah dan waktu input, transformasi, dan output yang tepat. Dimana keputusan AP dibuat untuk produksi, staffing, inventory, dan backorder level.

Tujuan


Tujuan dari AP adalah untuk meminimasi biaya akhir pada periode perencanaan dengan mengatur : Production rates, Labor levels, Inventory levels, Overtime work, Subcontracting, dan variabel yang terkontrol lainnya. Bisa dikatakan bahwa tujuan AP pada dasarnya adalah membangkitkan (generate) suatu rencana produksi dalam tingkatan top level production plans.Output (Hasil)
Hasil dari AP adalah tercapainya suatu rencana produksi yang menggunakan sumber daya organisasi secara efektif untuk memenuhi demand yang telah diperkirakan.
Dalam perusahaan manufaktur, AP dihubungkan dengan strategi tujuan suatu perencanaan untuk individual product (Master production Schedule / MPS).Sedangkan pada perusahaan service / jasa. AP terkait dengan strategi untuk menghasilkan suatu penjadwalan tenaga kerja yang terperinci.

Dasar Proses Aggregate Planning


Dasar analisis dalam AP adalah hasil ramalan permintaan produk (Forecast) dan target produksi perusahaan.Hasil ramalan permintaan merupakan input utama dalam proses AP. Selain peramalan, semua input untuk permintaan produk juga harus dimasukkan dalam proses AP, misalnya pesanan-pesanan aktual yang telah dijanjikan, kebutuhan persediaan gudang, dan penyesuaian tingkat persediaan.

Target produksi ditentukan oleh top level business plan yang memperhatikan kapasitas & kapabilitas perusahaan.

Keterlibatan manajemen puncak sangat diperlukan pada tahap perencanaan produksi, khususnya perencanaan mengenai penentuan pabrikasi, pemasaran, dan keuangannnya.

AP dikembangkan untuk merencanakan kebutuhan produksi bulanan atau triwulanan bagi kelompok-kelompok produk sebagaimana yang telah diperkirakan dalam peramalan permintaan.

Analisis dalam proses AP dilakukan dalam kelompok produk (product family) dengan unit agregat, disamping itu proses AP juga melibatkan pemilihan srategi manufaktur

Dalam suatu ruang lingkup yang lebih luas lagi, peran AP adalah sebagai interface antara perusahaan atau sistem manufaktur dan pasar produknya.

Strategi Aggregate Planning


Secara garis besar ada 4 jenis strategi yang dapat dipilih dalam membuat AP.
1) Capacity options
2) Demand options
3) Pure strategies
4) Mixed strategiesCapacity options
Strategi Capacity Options menggunakan besar kapasitas produksi sebagai pilihan untuk membuat AP tergantung seberapa besar kapasitas produksi yang diinginkan. Strategi Capacity Options dapat dijalankan dengan beberapa metode sebagai berikut :
• Mengubah-ubah tingkat inventory (level production)
• Mengubah-ubah ukuran tenaga kerja: hiring/lay off (chase strategy)

Chase Strategy diartikan juga sebagai suatu strategi perencanaan dalam AP dengan jalan melakukan penyesuaian kapasitas terhadap demand; perencanaan output untuk suatu periode dibuat sesuai dengan permintaan yang diperkirakan pada periode tersebut.
• Mengubah-ubah production rate: over time/under time
• Menggunakan part time workers

Demand options
Dengan adanya jumlah permintaan (demand) yang stabil, maka proses perencanaan produksi akan lebih mudah dilakukan. Perusahaan akan lebih siap dalam menyusun kebutuhan material dan tenaga kerja yang harus disiapkan untuk memenuhi kapasitas produksi sesuai dengan demand yang telah ditentukan sebelumnya.

Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk strategi demand options :
• Mempengaruhi demand: advertensi, promosi, personal selling, discount, diskriminasi harga
• Backordering : Membuat agar pelanggan setuju untuk menunggu pengiriman pesanan berikutnya jika terjadi kondisi dimana perusahaan tidak bisa memenuhi permintaan pelanggan dari persediaan yang ada.

Pure strategy
• Bila yang diubah-ubah hanya satu variabel.

Variabel disini adalah variabel-variabel dalam perencanaan produksi yang bisa dikontrol dan ditentukan sesuai dengan target produksi yang ditetapkan oleh top level business plan. Ada beberapa variabel yang dapat kita ubah, yang sering disebut dengan controllable (decision) variable.

Controllable (decision) variable :
• Inventory
• Production rate
• Manpower
• Kapasitas: over time/recruitment/layoff (tenaga kerja/work force)
• Subcontract

Mixed strategy
• Melibatkan pengubahan beberapa variabel, misalnya bila pure

strategy tidak feasible. Beberapa kombinasi pengubahan dari beberapa contollable (decision) variable bisa menghasilkan suatu strategi AP yang terbaik dan feasible untuk dijalankan.

Relevant cost
Berikut ini beberapa jenis biaya / cost yang berhubungan dengan perencanaan Aggreate Planning :
• Hiring/layoff cost (biaya penambahan/pemberhentian tenaga kerja)
• Overtime/under time cost (biaya lembur/ongkos menganggur)
• Inventory carrying cost (biaya Persediaan)
• Subcontracting incremental cost (biaya Subkontrak)
• Part time labor cost (biaya kerja paruh waktu)
• Backorder cost (biaya yang terjadi akibat permintaan pelanggan tidak dapat dipenuhi dari persediaan yang ada dan pelanggan menyetujui untuk menunggu pengiriman pesanan berikutnya)
• Stock out cost (biaya kekurangan stok/persediaan)

Issues to Consider in Aggregate Planning


Dalam proses pembuatan AP, ada beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan. Berikut ini adalah beberapa pokok persoalan penting yang perlu dijadikan pertimbangan dalam merancang suatu AP.
Production Workforce Inventory
Capacity Minimum level Minimum level
Demand Maximum level Maximum level
Material cost Subcontracting Holding cost
Labor cost Overtime
Overhead cost Hiring cost
Service level Firing/layoff costs

Metode Aggregate Planning


Dalam proses AP ada beberapa metode yang bisa digunakan yang diantaranya sebagai berikut :
1. Trial & Error (Charting/graphical methods)
  • Pure Strategy
  • Mixed Strategy

2. Mathematical (optimal) approach:

  • Linear Progamming Model
  • Transportation Model
  • Management Coefficient Approach / Empirical Approach
  • Simulation


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar